Showing posts with label CIVIL RELIGION. Show all posts
Showing posts with label CIVIL RELIGION. Show all posts

Saturday, 30 July 2016

WHAT WENT WRONG WITH ISLAM AND MUSLIM

salah satu perkara akademis yang mengita perhatian para sarjana islam selama bertahun-tahun adalah akankah islam, atau muslim akan menjadi demokratis? kita tahu bahwa dalam literatur ilmu politik, terutama teroi politik, demokrasi bersumber pada warga negara yang cinta pada nilai-nialai modernitas.

itulah setidaknya yang kita temukan pada tradisi Tocquevillian. dalam tradisi ini, kecintass pada kebebasan, toleransi dan setaraan menjadi instrumen utama terbentuknya demokrasi modern. tanpa kecintaan pada nilai-nilai itu, demokrasi akan dengan mudah terjatuh pada tirani mayoritas. di dunia islam, kecintaan pada kebebasan, toleransi dan kesetaraan menjadi barag langka. di berbagai survei internasional, indeks atas nilai-nilai itu tetap juga rendah. karena itu, demokrasi ters mengalami defisit di dunia islam, justru pada saat daun-daun otoriter di Amerika Latin tumbang secara serentak sejak 1980-an.

lantas pertanyaan yang sering kali diajukan oleh Profesor bernard lewis di princetonUniversity, Amerika adalah what when wrong with islam and muslm? dalam bahasa kita, " apa yang salah dengan islam dan muslim? professor lewis lansung menunjuk masalah utama di balik absennya demokrasi di dunia islam. yakni, sebagai sub judul karyanya (2003), 'the clash between islam and modernity in teh middle east' tesi utamanya tertumpu pada benturan antara islam dan modernitas di timur tengah. sesuai tesis Tocqueville, demokrasi dapat tumbuh subur karena di topang warga sipil yang mencintai nilai-nilai modernitas, sementara nilai islam dan modernitas, kata lewis, justru mengalmai kontradiksi dan benturan satu dengan yang lainnya. akibatnya, pohon demokrasi sulit tumbuh subur di dunia islam.

padahal, menurut lewis, diantara semua peradaban non-barat, islam justru mempunyai prospek cerah bagi tumbuh suburnya demokrasi modern seperti amerika dan eropa. baik daris egi pertimbangan sejarah, kultur, maupun segala agama, islam terkait cukup erat dengan barat. meskipun tidak sepenuhnya, islam mewarisi garis genealogis masa lalu dengan tradisi Judeokristen yang menjadi sendi utama demokrasi peradaban barat, entah amerika maupun eropa. sayangnya, semua modal itu tak termaterialskan secara baik di dunia islam. terutama dari segi politik, sesuai argument lewis, islam dan muslim mengalami nasib tragis dala perwujudan demokrasi modern -liberal. dia pun menunjukkan data bahwa di antara 53 negara yang berkembang kjedalma organisasi Konferensi Islam internasional (OKI), hanyalah turki yang lolos memenuhi standar demokrasi model barat (bernard Lewis, " islam and liberal Democracy," the antklantis monthly, 1993;89). ingat, kebenaran data lewis -jika itu benar- terikat pada masaitu. artikel itu sendiri ditulis pada tahun 1993: suatu masa ketika dunia islam memang sedang pada opuncak otoritarianisme, seperti indonesia di bawh rezim Soeharto.

kita kembali lagi ke poin utama : what went wrong with islam and muslim? tanpa rasa simpatik, lewis lansung menukik ke jantung islam: bahwa agama ini tidak memperkenalkan konsep citizenshi, yakni,konsep kewarganegaraan yang menjadi syarat utama demokrasi modern tidak ada konsep citizenship. yakni, konsep kewarganegaraan yang menjadi syarat utama demokrasi modern. tidak ada konsep citizen dalam bahasa arab, turki maupun persia. nomenklatur ini jelas tak sepadan dengan konsep citizen, yang didirivasikan dari bahasa latin, civis, dan memiliki makna pada konsep polites dalam bahasa Yunani maknanya pun suportif terhadap demokrasi : seseorang yang berpatisipasi dalam urusan-urusan publik di polis (kota).

tidak adanya konsep citizenship dalam islam mengandung sejumlah implikasi serius. yakno, hilangnya hak-hak sipil dan politik warga negara dalam berpartisipasi di ruang publik. inilah yang selam ini diderita warga sipil yang hidup dibawah rezim diktator-despotik dunia islam. konsepkuensinya, gelombang demokrasi menejadi bergerak sangat lamban, akibat hilangnya aktor sipil sebagai kelompok penekann. aktor negara sangat sulit diandalkan sebagai pilar demokratisasi, karena justru disitulah sumber masalah angin demokrsi di dunia islam. kita tetap berharap terus aktif dalam ruang publik (public sphare). inilah salah satu pilar utama, di samping pilar pers, lembaga parlemen, dan kekuatan ekstra-konstitutional, untuk mendorong ke arah proses demokrasi di dunia islam. negara kita tercinta, indonesia, menjadi laboratorium tumuhnya demokrasi justru dari pojok representasi dunia islam terbesar di duia yang bernama Indonesia. temtu, asal dengan syarat kita semua terus mengawal proses demokrasi yang sedangberlansung di negara ini, agar bergerak ke arahkehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih demokratis tentunya. dnegan begitu, tesis-tesis orientalis barata akan berguguran dengan sendirinya.

Friday, 29 July 2016

MANIFESTO ISLAM PROGRESIF

saya ingin memperkenalkan suara islam progresif di Amerika yang dikampanyekan oleh Omid Safi. lahir di jacksonville, florida, Amerika, tahun 1970, safi mulai dikenal sebagi intelektual muda muslim yang sedang naik daun dalam panggung publik Amerika. kedalamannya dalam studi islam dimulai sejak kecil. meski lahir di Amerika , Safi justru dibesarkan di Iran. ia memang keturunan Iran, dan keluarganya memutuskan kembali ke Iran tahun 1970-an, safi pun iktu serta, dan akhirnya menghabiskan masa-masa pembentukan awal kehidupannya di Iran. ia berada di sana saat-saat terjadinya revolusi Iran tahun 1878-79.

namun, sejak 1980-an, safi kembali ke Amerika - kota yang melahirkan dirinya - dan menempuh studi akademis. Gelar akademis mulai sarjana (B.A.), Master (M.A), sampai doktoral (Ph.D) ia peroleh dengan sangat baik di Universitas duke, Amerika. ia pun segera diangkat sebagai Proffesor studi islam di Unovesitas Colgate, New York. ki[rah publiknya melai tampak ketika ia mengedit buku Progresive Muslims: On justice, Gender, and Pluralism., (OneWorld, 2003). dalam buku itu safi mengikut sertakan selita lim abelas muslim progresif untuk merekontruki penafsiran islam yang progresif, terutama terkait dengan tema-tema keadilan, kesetaraan jender dan pluralisme agama, In Amerika, " kata sandi (2005), " in spite of the prekidices, Muslims Have the freedom, the social space to undertake a humane, pluralistic, and insclusie understanding of islams way very difficult to do in their home countries. it is a whole thinking on islam.... a  progressive understanding of islam "
ia memang menikmati kebebasan itu dan memaksimalkannya untuk menampilkan wajah baru islam yang progresif, toleran, dan beradab. mulai tahun 2004, safi mentransformasikan visi ideal Islam progresif ke dalam suatu gerakan islam yang ia sebut Progresive Muslims Union of Morth Amerika (PMUNA)

dalam Reaith lectures untuk BBC tahun 1993, said menrekontrusi intelektual publik sebagai para pemikir publik independen yang kritis terhadap bentuk ortodoksi, dogma, dan tidak diintervensi oleh kekuasaan pemerintah. safi memang memenuhi kriteria itu : ia adalah seorang akademisi muslims yang relatif independen, dan menggunakan islam sebagai penalaran publik untuk kritis terhadapa ortodoksi, dogma, otonom, dari intervensi kekuasaan pemerintah Amerika.

sebagao untelektual publik, safi menggunakan pendekatan apa yang disebutnya sebagai multi-kritik. jadi, peranti Islam Progresif bermuara pada multi kritik; sebuah kritik yang ditunjukkan pada berbagai penjuru.

ke luar, kritik utama ditujukan pada pemerintah amerika sendiri alih-alih di intervensi pemerintah, safi malahmengkritik ketidak adilan kebijakan luar negri Amerika terhadap egara-negara timur tengah. juga kritikannya atas dukungan amerika terhadap rezim anti-demokratik Pkistan, presiden Parvez Musharraf. safi juga menunjukkanketidak setujuannya yangsangat keras dan terbuka terhadap dukungan Amerika atas keputusan hosni Mubarak untuk meanhan aktivis HAM professor Saad eddin Ibrahim pada bulan juni 2000. ia tak lelah untuk protes atas serangan Amerika atas Irak, dan kini mulai terbuka intervensi Iran- kota kelahiran para pendahulu safi. sebagai warga Muslim kelahiran Amerika, sagi telah secara beranimenyuarakan kebenaran para penguasanya tanpa ada ketakutan sedikitpun. dan, pada saat bersamaan, ia pun mencari keadilan dankebebasan untuk orang-orangPalestina yang telah menderita akibat kongsi tak suci antara Amerika dan Israel.

namun, ke dalam, safi juga mengkritik penyebaran penafisran islam yang konservatif dan literal. faktanya, kata safi, organisasi-organisasi islam di Amerika, seperti the Islamic Circle of North Amerika (ICNA). the Islamic society of North Amerika ( ISNA), dan the Council on American Islamic relations (CAIR) ralatif kurangkritis terhadap pengaruh konservatisme paham salafi dan wahhabi pada muslim Amerika. ia memang tidak setuju jika paham salafi-wahabi yang konservatif dan literal itu merasuk jalan pikiran orang-orang muslim di amerika.

tak kalah pentingnya, sebagai muslim Progresif, safi juga berjuang habis-habisan untuk mempertahankan harkat dan martabat islam dari serangan bertubi-tubi kalangan Kristen sayap kanan. di Amerika, kelompok ini memang yang paling gencar menyerang islam. dianatara mereka adalah Franklin Graham yang memfitnah islam sebagai agama intoleransi; Patrobertson yang menyejajarkan islam dengan agama kekerasan dan daniel Pipes, yang terkenal sebagai supertor utama sayap ektrem kanan di israel. Safi secara terbuka berkonfrontasi dengan Kristen sayap kanan ini yang bersuara anti-islam di Amerika. safi juaga melawan pengaruh kuat kelompok neokoservatif yang selam ini mendesak pemerintah Amerika bertindak sebagai kekuasaan imperial yang liar di dunia islam.

Omid safi melalui menaifesti islam Progresif memberikan teladan yang baik kepada kita semua. ia tahu kapan bertindak sebagai muslim dan kapan sebagai warga Amerika. sebgai Muslim, safipun membela Islam dari serangan Kristen sayap kanan; membela muslim dari ketidak adilan pemeintah Amerika; namu juga kritis atas varian konservatisme salafi dan wahabi. sebagai warga Amerika, Ia tak kurang Kritisnya atas "the abuse of power" oleh kekuasaan Imperial Amerika atas dunia Islam.

MANIFESTO ISLAM MODERAT

"the true islam is the islam of moderation. " inilah manifesto islam yang disiarka oleh profesor khaled Abou El Fadl, melalui karya terbarunya, the great theft: wresting islam from the extrimists, (2005). manifesto islam itu dideklarasikan di bawah rubrik " islam moderat". tentu saja. kita sudah sering mendengarkan istilah " islam moderat" atau "musilim moderat"; meskipun tak begitu jelas indentitasnya. profesor islam di universitas california, Los angeles itu, ingin mempertegaskan kembali identitas islam moderat secar lebih sistemaris dan akademis. mengapa proyek ini penting dan mendesak dilakukan?

 dibarat maupun di timur, islam terlampau didindetifikasikan dengan makna peyotif dan negatif. islam dituduh sebagai agama yang mengajarkan intoleransi, kekerasan, dan terorisme. karena itu, label " islam ekstrimis" di pakai di mana-mana, baik di lingkungan akademis maupun di panggung publik secara luas, terutama di Amerika dan eropa. pelakunya pun disebut " muslim ekstrimis". inilah yang oleh prof khaled disebut " the great theft;" pencurian besar, dan mungkin terbesar, terhadap agama islam. ia ingin merebut islam dari pencurian Muslim ekstrimis. islam ekstrimis bukanlah jenis islam yang diajarkan kanjeng Nabi Muhammad. pendek kata, islam ektrimis, berserta ganknya seperti islam fundamentalis", " islam radikal" dan " islam militan, " adalah jenis islam yang keliru. dan diluar pakem yang diajarkan nabi kita, Muhammad s.a.w.

" islam yang benar'" kata khaled yang hafal al-Quran sejak usia kecil, adalah " islam moderat" yang mengajarkan toleransi , keadaban, perdamaian, dan rahmat semesta alam. namun, islam modret tidak sendirinya identik dengan " islam modernis" reformis", islam prograsif, " dan isalm liberal." semua varian islam yang disebut-sebut belangan itu terlampau elitis, diadpsi oleh sekelompok kecil elite intelektual, dan kurang merfleksikan kecendrungan umum umat islam yang modrat. kata khaled. " ..... a minority of muslims are reformers or progrssives, but in terms of islamic theology and law, yhe majority of muslims are moderates ( .... minoritas muslims adalah reformis atau progresif, tapi dari segi teologi islam dan hukum mayoritas muslims adalah moderat)" khaled, 2005: 18) lantas, apa krakteristik utama yang menreflesikan identitas islam dan muslim moderat?

secar ringkas, profesor khaled, pertama-tama, merujuk pada al-Quran yang mengajarkan umat islam untuk menjadi umat yang moderat; umat tengah yang tidak terjebak pada kutub ekstrim manapun. umatan wasathan secara jelas metujuk pada identitas muslim moderat yang berada di tengah, tidak ekstrim ke kutub manapun dan berpihak pada keadilan, keseimbangan, dan kebenaran rasulullah pu, kata proffesor khaled, jika dihadapkan anatara dua pilihan yang ekstrim, juga memilih sikap moderat dan jalan tengah. " khairul umur ausatha,' adalah sabda populer nabi yang mencerminkan sebaik-baik urusan adalah berada pada jalan tengah dan moderasi. inilah aspek normatif islam moderat dan ajakan moral utuk menjadi muslim moderat.

setelah mendefinisikan secara ringkas, jelas, dan tegas apa itu islam yang moderat, professor khaled menarik benag merah yang harus disepakati oleh muslim. katanya, semua muslim, mulai dari ekstrimis, moderat, hingga muslim liberal sekali pun, harus sepakat dan beriman pada lima pilar keimanan dalam islam : ikrar atas syahadat, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, beribadah puasa, dan berhaji bagi yang mampu. kelima pilar ini adalah kesepakatan yang tidak bisa ditawar-tawar, karena menjadi fondasu dasar keislaman setiap muslim.

lantas, dalam masalah apa saja muslim berbeda pendapat? dalam konteks inilah kepiawaian intelektual professor Khaled benar-benar teruji dan punya daya pikat tersendiri. ia pandai membingkai apa-apa yang " dusepakati" dan diperdebatkan" dalam islam scara katagoris dan sistematis. soal apa-apa yang disepakati semua muslim sudak diletakkan dalam rangka lima pilar islam di atas. namin, soal-soal yang dapat diperdebatkan dan menjadi pusat "pembeda identitas" antara muslim moderat denganlainnya dapat dilihat pada respons mereka atas - untuk menyebut salah satu contohnya- hak asasi manusia dan demokrasi.

kalangan " muslim ekstrimis" sudah terlampau ssering respons secara skeptikal terhadpa isu hak asasi manusi dan demokrasi sebagai murni produk barat karena itu, tak sesuai nulai-nilai islam. namun, kaum muslim moderat merespons secara positif dan kontruktif atas isu hak asasi manusia dan semokrasi; yang justru berakar kuat dalam al-quran dan tradisi islam. emnjamin ungkapan asli professor Khaled, " the moderates belief in democracy and human right begins with the premise that oppresion is a great against god and human beings. the al-quran describes oppressors as corruptors of the earth and also describes opperassion as an offense against god" ( khaled, 2005;183)

intinya, sikap positif dan afirmatif kaum moderat terhadap hak asasi manusia dan demokrasi justru didasari pada suatu premis utama bahwa tindakan opresif adalah pelanggaran moral terhadapa tuhan dan mausia. Al-quran sendiri justru menilai pelaku tindakan opresif sebgai koruptor, dan karena itu melawan prinsip moral-kebijakan tuhan. khalifah umar bertugas menegakkan keadilan, keadilan sendiri, dengan sendirinya, mengadaikan aspek keseimbangan dan moderat islam.

pendek kata, islam jika ditafsirkan secaara moderat, benar-benar menyediakan kekayaan refereansi yang luar biasa untuk merespons secara kontrukstif isu-isu hak asasi manusia demokrasi, keadilan, dan kebebasan, toleransi, pliralisme, kesetaraan jender, dan hubungan antar umat beragama semua itu, tentunya berpulang pada kita semua.

Thursday, 28 July 2016

TOLERANSI DALAM PROFETIK ISLAM


secara literal, ternyata sulit menemukan terminologi toleransi dalam kitab Suci Al-quran. anti tesis atas toleransi dalam al-quran adalah Intoleransi atau pemaksaan (coercion, ikrah) "la ikraha fi al-din" (Q.s, 2: 256), demikianlah firman Allah dalam Al-quran yang melarang "pemaksaan" agama. Al-quran menjunjung tinggi semangat toleransi atas kebebasan beragama, tanpa ada paksaan sedikitpun. Agama menjadi pilhan individu sesuai kehendak hatinya. jika anda beriman, silakan beriman. pun sebaliknya, jika anda mau kufur, yang secara literal menutup diri dari pintu kebenaran- juga dipersilahkan. ini prinsip toleransi yang luar biasa modern untuk zamannya. dan, pesan utama pewahyuan al-quran juga bervisi toleran : toleran terhadap kaum Kristiani, Yahudi, dan Arab poleteis semasa di Makkha.

ketika terminologi toleransi sulit ditemukan dalam Al-quran, kta pun dapat menjumpai terminologi toleransi justru melalui tradisi profetik islam. yakni, al-hanafiyya alsamha - sebagai termaktub dalam hadist nbau : " ahabbu al-din ila Allah al-hanifiyya al- samha" (agama yang paling dicintai disisi Allah adalah Al-haniyya al samha: agama yang berorientasi pada semangat untuk mencari kebenaran secara toleran dan lapang). disinilah, makna alsamha mengandung afinitas linguistik dengan tasamuh atau samaha ; sebuah terminologi modern Arab untuk merujuk pada toleransi. hadist nabi Nuh ini sering kali di pakai sebagai tujukan islam untuk mendukung toleransi atas agama-agama lain.

Alm. Professor Nurcholish Madjid senang sekali merujuk pada terminologi Al-hanifiyya al samha; tidak saja sebagai salah satu kunciutama untuk menjelaskan pentingnya toleransi dalam tradisi profetik islam, melainkan juga ditafsirkan sebagai sikap untuk senantasa mencari kebenaran secara toleran. ini artinya bahwa kita tidak boleh sekali-kali melakukan absolutisme dalam pencarian kebenaran. yakni, suatu sikap pada diri kita bahwasanya kebenaran dapat kita peroleh secara absolut sambil menutup pintu rapat-rapat kemungkinan saudara kita menemukan kebenaran serupa. itu mustahil ; tidak saja karena hal itu justru bertentangan dengan sabda Nabi untuk bersikap toleran dalam setiap usaha pencarian kebenaran, tetapi juga sikap absolutisme seperti itu mengarahkan kita pada sikap pemberhalaan diri, yang disebut dalam islam dengan istilah toghut, perberhalaan diri yang menutup diri kita dari pintu kebenaran.

makna toleransi dalam islam sebaliknya senantiasa disertaidengan sikap kerendahan hati dan lapang dada, sambil terus terbuka untuk mengakui adanya kemungkinan orang lain benar. toleransi adalah rintisan jalan ke arah inclusivisness ; keterbukaan diri untuk melihat kemungkinan pendapat orang lain benar, dan kemungkinan pendapat kita salah. kesadaran ini adalah bentuk kesadaran pikiran dan hati, yang dapat dicapai melalui paduan secara antara kematangan rasional. kearifan diri dan kebijaksanaan hati. inilah sejatinya toleransi secara inklusif, yang menjadi salah satu nilai fondasi dasar demokrasi modren. karena itu, pencapaian nabi pada priode madinah dinilai sosiolog terkemuka Amerika, robert N. Bellah, sebgai suatu pencapain yang luar biasa modern karena menjunjung tinggi prinsip toleransi dan egilitarisme antar warga.

Wednesday, 27 July 2016

ISLAM YANG MENCERAHKAN

Presiden Bambang Yudhoyono pernah mengajak kita semua lebih-lebih para tokoh dan pendidik agama, untuk menghadirkan islam dengan wajah yang mencerahkan. diantara sekian banyak pembaca, tentu ada yang bertanya-tanya kepad asiapa kita bisa merujuk sebagai suatu model? Presiden bambangYudhoyono merujuk kepada wali songo sebagai suatu modek penghadira islam yang benar dan mencerahkan. nah selain itu ada pula tokoh yang yang menjadi model rujukan dalam formis muslim itu sendiri, yang sentuhan lansung dengan Eropa dan akrap dengan sederetan nama besar karya-karya para pemikir pencerahan Eropa, terutama Pencerahan Prancis. (French Enlightenment).
muslim reformis itu bernama Rifa'a Badawi Al-Tahtawi (1801-1873). dialah generasi reformmis priode awal di dunia modren yang punya kontak lansung dengan dunia Eropa. terutama prancis. selama 5 tahun, Tahtawi menghabiskan hidupnya di Paris sebagai penasehat Misi Militer Mesir di Ibukota Prancis itu. diluar tugas resminya, Tahtawi ternyata berdecak kagum dengan penceraha Prancis, dan bahkan sangat akrab dengan sejumlah pemikir garda depa dibalik pencerahan Prancis itu. demikianlah Tahtawi mengenal nama Voltaire, Roussec, Condillac, dan Montesquieu. sepulangnya ke negeri asala, yakni Mesir, Tahtawi menerjemahkan karya-karya voltaire dan Montesqiue -dua orang pemikir sebagi pencerahan Prancis- dan sekaligus menulis laporan mimikat selama di Prancis berjudul : Takhlis al-barz fi Talkhis baris. dalam "sekelumut laporan tentang kota Prancis " itu Tahtawi menunjukkan kekagumannya dan bahkan memuji kebajikan sosial orang-orang prancis, jiwa patriotisme mereka, ketidak sukaan mereka pada kemalasan, dan dedikasi mereka pada etos kerjayang giat, serta keahlian mereka dibidang ekonomi dan finansial/ keuangan.
kita umat muslim, dapat belajar dari apa yang dicita-citakan secara positif oleh Tahtawi. yakni, pentingnya umat islam mengobjektifikasikan aspek-aspek kebajikan normatif islam pada kebajikan sosial. etos kemalasan yang dikritik oleh orang-orang Prancis juga dapat diteladani umat islam untuk keluar dari : the Habits of Lazines": sikap hidup yang malas, yang menjadi akar-akar kemunduran umat islam di berbagai dunia islam. islam harus menjadi paduan moral spuiritual umat islam untuk meningkatkan etos kerja yang giat. semangat pencerahan Prancis yang dikagumi Tahtawi dapat kita teladi sebgai suatu inspirasi untuk melahirkan islam Indonesia yang mencerahkan: islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kebajikan , keadaban, peradaban, modern dan kebebasan berpikir secara rasional.
muslim reformasi paska Tahtawi adalah Afagni (1839-1897). ketika prancis tahun 1880-an , Afgani bersama muridnya, Abduh, menerbitkan jurnal al-Urwah al-Wuthqa, yang menyerukan pentingnya persatuan umat islam untuk melaawan imperialisme.
namun di paris pula, afghani bertemu dan terlibat debat produktif dengan filsuf ternama Ernest Renan: dalam kapasitasnya sebagai seorang intelektual. dia membela islam dan muslim dari kritik pedas Renan.: sambil mengajukan tesis bahwa islam dan muslimpun rasional dan sedang berproses menuju modern. ketika berkunjung ke Paris, Murid afgani yang reformis dan terserahkan, Muhammad Abduh (1849-1905), juga membuat testinomimenarik. Abduh menemukan islam di Paris, tetapi tidak menemukan orang muslim di Paris.
ketika pulang ke negeri asalnya, mesir, dia justru menemukan "orang-orang muslim" tapi tak menemukan islam. peran muslim reformis Abduh kepada umat islam kira-kira demikian: nilai-nilai islam justru ditemukan di dan lebih diamalkan oleh orang-orang barat (prancis). ketimbang umta islma sendiri. Islam mahjudun bil muslimin: islam tertutupi oleh orang-orang islam sendiri. karena itu, umta islam harus direbut kembali keislamannya dan menghidupkan kembali spirit islam yang mencerahkan, yang selaras dengan semangat toileransi, keadaban, peradaban Modern, inilah islam yang benar dan sebenarnya: bukan islam yang mengajak bunuh diri dan membunuh orang lain.